Rabu, 30 Desember 2009

Transisi Kaum Cendekia

Transisi Kaum Cendekia

“Dunia Kampus tak Sekedar Peralihan Pendidikan”

Oleh: Teguh Eko Sutrisno*

Bergerak adalah keniscayaan bagi dinamisnya keadaan. Pun bagaimana perjalanan hidup manusia sebagai insan pendidikan yang selalu bergerak. Setidaknya anak-cucu Adam ini harus terus melakukan move-move untuk menjaga dinamisasi dirinya. Pun naik jenjang menuju kampus tiada lain sebagai pernyataan diri sebagai insan yang dinamis. Hal ini salah satu alasan banyak pelajar yang tertarik untuk mencicipi status mahasiswa. Karena status itu bukan sekedar peralihan dari Sekolah menengah/madrasah menuju pendidikan tinggi saja. Ada aura peralihan, perubahan dan perbaikan yang dahsyat di sana.

Sejarah mencatat tidak sedikit perubahan besar dimulai dari peralihan-peralihan keadaan. Sebut saja perjuangan Rasulullah Saw baru terasa ‘nendang’ ketika beliau beralih (baca: hijrah) dari Makkah menuju Madinah. Hal yang luar biasa juga terjadi pada Albert Einstein ketika ia melakukan peralihan dari tanah Europe menuju United States of America, ia menjadi ilmuwan yang tak akan pernah dihapus sejarah. Hal yang mencengangkan juga terjadi pada Jenderal Ahmad Yani saat ia mengikuti akademi militer angkatan darat di negeri Paman Sam. Ahmad Yani muda berhasil menjadi sosok jenderal yang luar biasa setelah peralihan pendidikan tersebut. Singkat kata, hampir tidak ada perubahan besar tanpa didahului peralihan-peralihan yang menentukan.

Dunia kampus, dunianya kaum pendidikan yang terus bergerak, dinamis dan beralih. Peradaban dunia mulai mengalami keemasan tidak lain karena faktor pendidikan menjadi penunjang. Semisal kampus al-Azhar di Mesir, kampus oxford di Eropa, kampus Nizamiyah di Baghdad dan lainnya merupakan kampus bersejarah yang menjadi penentu jalannya peradaban dunia pada masanya. Sulit untuk dibantah bahwa pasang surut kemajuan pendidikan berimbas dengan kualitas peradaban manusia. Itulah pendidikan dan itulah kampus. Namun kita jangan sampai melupakan siapa aktor terpenting di dalam sebuah universitas. Merekalah para mahasiswa yang konsisten bergerak.

Kepada mahasiswa yang dinamis jangan terkejut jika suatu saat menjadi orang besar dalam sejarah. Hal ini karena para mahasiswa telah memasuki zona peralihan yang sangat menentukan bernama kampus. Hal ini pernah terjadi pada guru bangsa kita yang mengalami perubahan besar saat berkenalan dengan dunia kampus. Bukankah Soekarno pernah hijrah dari Surabaya menuju kampus di Bandung, Technische Hoge School (sekarang ITB). Di sana beliau banyak berdialektika dalam dunia idealisme kebangsaan bersama mahasiswa lainnya. Bung Hatta pun belajar hingga ke negeri bule, kampus Handels Hoge School di Rotterdam, Belanda.

Sukarno, Hatta dan Sutan Syahrir adalah manusia biasa, nyaris tak ada beda dengan kita. Dan penting untuk diingat, salah satu langkah hidup mereka adalah berhijrah menuju kampus. Namun sayang mahasiswa kini seolah melupakan proses transisi ini. Tidak sedikit pegiat akademik yang melangkahkan kakinya menuju kampus hanya karena tuntutan trend. Padahal telah dimaklumi akan posisi mahasiswa sebagai agent of change (Agen perubahan). Sebuah sematan yang lebih daripada prestise semata. Agen perubahan adalah amanah mahasiswa terhadap bangsa ini. Hingga tidak heran jika keberadaan mahasiswa sebagai aktor intelektual senantiasa ditunggu-tunggu kontribusinya.

B. Amr bin Luhay Berhijrah Untuk Kesesatan

Pemimpin Bani Khuza’ah yang suka berbuat bajik, rajin bershadaqah, singkat kata dia adalah kiayi nya bangsa arab pada masanya (masa sebelum nabi). Ketika Amr bin Luhay mengadakan perjalanan ke Syam, ia melihat penduduk Syam menyembah berhala sebagai kebiasaan di negeri para Rasul itu. Kesimpulannya ia memutuskan menyembah berhala adalah kebaikan. Parahnya kultur tersebut ditransfer juga ke tanah Mekah. Hingga muncul berhala Hubal, Latta dan Uzza di sekeliling Ka’bah. Masyarakat Mekah pun hanya ‘manut’ saja pada sang kiayi. Sungguh keluguan Amr bin Luhay saat melakukan perjalanan menjadi penyebab malapetaka di Mekkah.

Amr bin Luhay mungkin telah lama tiada, namun keluguannya masih terwarisis di zaman sekarang. Tidak sedikit pelajar dari daerah yang datang ke Yogyakarta membawa keluguannya. Pelajar lugu ini pun melihat hal baru yang berbau modern (baca:pemikiran liberal) sebagai hal yang biasa. Hingga akhirnya kultur tersebut mereka bawa ke kampungnya dan menghipnotis masyarakat menjadi liberal. Tidak sedikit lulusan mahasiswa yang berdebat usil dengan ustadz dan kiayi di kampung hanya karena guru-gurunya tersebut dianggap kolot dan tidak modern. Na’udzubillah…


*Penulis adalah Mahasiswa KPI Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Pemuda Rohis asal SUMSEL ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Partai PAS wilayah Fakultas Dakwah.

Ledakan atau ‘Ledekan’…?

Ledakan atau ‘Ledekan’…?

Oleh: Teguh Eko Sutrisno

Belum sembuh luka korban bom di kawasan Legian, Kuta Bali 2002 silam. Pun belum kering air mata keluarga korban bom Marriott enam tahun lalu. Begitu juga sejumlah ledakan di depan Kedubes Australia beberapa waktu lalu. Juga ledakan-ledakan di Poso, Aceh, Jakarta dan di wilayah Indonesia lainnya. Lebih dari 190 kasus teror peledakan Bom dari berbagai penjuru tanah air telah terjadi. Pelaku teroris pun tak mau ketinggalan zaman. Mereka kian professional saja membuat ‘kejutan’ yang meresahkan warga. Walhasil, daar..! pukul 07.45 pagi terjadi ledakan untuk kedua kalinya di depan hotel JW. Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli Jumat lalu. Tentu saja publik bertanya-tanya ada apa gerangan.? Apakah hanya karena ‘mbah Fergusson’ Cs hendak menginap di Indonesia? Ataukah disebabkan ketidakpuasan terhadap hasil PILPRES 2009…? Ataukah ini ulah iseng para teroris yang terus menebar ancaman?

Para penggemar Manchester United (MU) di tanah air tentu begitu geram. Mimpi ingin bertemu Ronney dkk secara langsung pupus sudah. The Dream Team yang telah disusun PSSI pun pulang kampung. Tiket Stadion Gelora Bung Karno yang habis terjual terpaksa dikembalikan lagi. Kesemuanya ini tentu saja erat kaitannya dengan ledakan bom di Mega Kuningan tersebut. Mungkinkah kedatangan juara Premier League itu cukup berpengaruh bagi Indonesia sehingga harus dihadang dengan bom. Ya, mungkin saja jika nalar yang digunakan adalah MU sebagai klub yang berbau kapitalis. Kedatangan mereka yang dinilai sebagai simbol mulai merapatnya Indonesia pada kepentingan kapitalis. Lantas kenapa sejak dulu Freeport, Exxon, dan Simbol kapitalis lainnya masih aman-aman saja? Padahal perusahaan-perusahaan multinasional tersebut jelas-jelas berbau barat. Anehnya kenapa warga pribumi yang menjadi tumbalnya?

Skenario lain berpendapat bahwa bom mega kuningan ini sebuah ekspresi kekecewaan terhadap hasil Pilpres. Pasalnya seluruh kontestan Pilpres yang masih berbau militer itu bukanlah tokoh yang saling ‘bersahabat’. Dan tentunya mereka bukanlah orang yang asing akan dunia rakit-merakit bom. Apalagi PEMILU kali ini diikuti oleh para mantan jenderal. Lokasi bom yang ada di ibukota pun mengindikasikan setidaknya ada unsur politik di dalamnya. Hal ini mengingat bahwa Jakarta merupakan pusat pemerintahan NKRI dimana segala sesuatunya diukur dengan kacamata politik. Akan tetapi analisis ini dengan mudah dibantah oleh semua kontestan Pilpres. Bahkan tidak ada saling tuduh antar mereka.

Pendapat yang paling masyhur atas tragedi ini adalah adanya pemain lama yang –lagi-lagi- dihubungkan kepada kelompok Jama’ah Islamiyah (JI). Mereka adalah pelaku atas sejumlah aksi teror di tanah air. Sebut saja Nurdin M Top kini kembali populer di kalangan POLRI. Buronan nomor wahid itu tak bosan-bosannya mengusik tidur banyak orang. Dengan berdalih jihad, M. Top berhasil melakukan “Brain Wash” terhadap kader-kader militan untuk melakukan bom bunuh diri. Uniknya, para gembong teroris ini merasa benar sekaligus bangga atas kelakuannya.

Hal yang menyakitkan adalah kian terpojoknya wajah Islam dengan tuduhan sebagai produsen kekacauan umat. tragedi bom ini seolah menutupi bagaimana umat Islam Indonesia baru saja menyelenggarakan hajatan PEMILU damai. Ledakan bom ini sekaligus ledekan bagi bangsa Indonesia yang dulu sempat tersohor sebagai bangsa yang ramah-tamah.

Ceritera yang menggelikan lagi ketika pemerintah Indonesia harus menuntaskan terorisme ini sendirian. Lihat saja bagaimana Amerika Serikat sempat kecolongan pada 11 Sepember 2001 silam. Negeri yang selalu pamer kekuatan militer itu harus bersusah payah menyelesaikan kasus terorisme yang tak kunjung selesai. Apalagi Indonesia yang punya reputasi buruk di bidang pertahanan dalam negeri. Namun akankah bangsa Indonesia hanya pasrah menunggu bom-bom berikutnya. Setidaknya harus ada upaya pencegahan yang serius dan berelanjutan dari POLRI.

Tahap pertama adalah pemulihan Traumatic Shyndrome rakyat Indonesia terhadap lokasi-lokasi keramaian yang selalu menjadi sasaran ledakan. Hal tersebut harus diiringi dengan jaminan keamanan yang betul-betul safe. Tujuannya bukan sekedar terapi psikologi pasca bom semata. Namun lebih pada adanya jaminan keamanan yang bisa menunjang sektor lainnya. Sebut saja sektor pariwisata dan ekonomi yang langsung terkena imbasnya.

Tahap kedua, mulai saat ini POLRI jangan sedikitpun merasa sungkan untuk menggandeng masyarakat menuntaskan tragedi bom Marriot ini. Kini POLRI dan rakyat memiliki musuh bersama. Adalah mereka para pelaku bom apapun motifnya merupakan buronan polisi sekaligus buronan rakyat. Jika masyarakat dan aparat telah satu frame maka nyaris tak ada lubang persembunyian bagi pelaku peledakan untuk melarikan diri. Mungkin masih ingat bagaimana peristiwa G-30S/PKI yang binasa oleh kekuatan TNI (ABRI pada saat itu) yang saling berjibaku bersama rakyat.

Tahap ketiga, eksekusi operasi penuntasan kasus teroris secara total. Mulai dari aspek kognitif, hukum dan keagamaan hingga pada aspek praksis-militeris. Aspek kognitif dengan pembelajaran anti terorisme dalam pelajaran tambahan bagi pelajar. Pun dengan digagasnya UU anti terorisme secara baku. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memainkan kembali peran agama sebagai sumber ajaran perdamaian. Tahap selanjutnya adalah dengan penindaklanjutan secara kontinu terhadap tragedi bom di Indonesia, terutama JW Marriott dan Ritz Carlton.